Iihh… susah amat sih ngajarinnya?
Lemot… Oon… Oneng, yach?
Ha ha ha, itu mungkin hanya sekian dari banyak ungkapan yang sering diungkapkan oleh sang ibu atau kakak yang mengajari anaknya atau sang adik tapi sepertinya sang anak terlihat lebih lambat atau “lemot” untuk menangkap apa yang diterangkan.
Karena penasaran, jadi coba cari-cari tentang cara mengajar anak yang agak lambat dalam belajar di blog Miss Jana dan tadaaa…. ketemu juga, meski bukan artikel dan uraian panjang, tapi cukup mengena. Ini isinya
Mengenai anak yang “slow learner”, sebaiknya dilihat dulu yach kenapa dia jadi begitu? Mungkin saya bisa berikan beberapa sebabnya di sini.
* Coba diteliti apakah cara mengajarnya yang kurang sesuai dengan anak tersebut. Maksudnya cara mengajarnya terlalu cepat? Atau terlalu lambat? Apakah dia lebih senang belajar dengan mendengarkan musik? Di sini diperlukan suasana belajar sambil bermain agar lebih menyenangkan. Dengan demikian, sel-sel otak akan lebih cepat menyerap informasi yang diberikan.
* Apakah waktu belajarnya kurang tepat? Biasanya anak akan senang belajar jika dia dalam keadaan kenyang, tidak lapar dan haus.
* Apakah ada yang merisaukan hatinya di sekolah? Teman-teman atau gurunya? Anak akan lebih senang belajar bila tidak ada tekanan dari siapa pun.
Suasana belajar sambil bermain bisa diciptakan dengan beberapa cara berikut. Silakan ciptakan ruang belajar di lantai (diisi tikar lebih bagus). Letakkan rak buku yg pendek agar anak bisa menjangkaunya dan mengambil buku-buku dengan mudah. Belajarlah ikut bersama anak dalam suasana hati yang gembira, baik orang tua maupun anak. Bersikaplah sebagai temannya. Jika anak membuat kesalahan, berilah jawaban yang benar. Anak jangan dipojokkan, karena membuat kesalahan adalah alami. Kita sebagai orang dewasa pun sering salah, apalagi anak-anak. Berikan saja jawaban yang mana yang benar. Jangan mengetes anak, karena ini akan menurunkan motivasi belajarnya.
Jadi, dalam hal ini Kita harus berusaha menumbuhkan minat belajarnya lebih dulu. Kalau anak sudah senang belajar, maka belajar apa pun dia akan lebih termotivasi.
Lingkungan, suasana dan iklim yang menarik untuk belajar dengan sendirinya akan membuat anak semakin tertarik dan tertantang (terlebih lagi betah) untuk belajar lebih lama dan lebih giat.
Sumber: Miss Jana Blog
Papa Arsya



No comments yet
Comments feed for this article