Mengenalkan akan angka dan huruf kepada si kecil ada lebih baiknya dari semenjak masih kecil, hal ini selain untuk membiasakan juga untuk meningkatkan daya kerja otaknya. Sehingga si anak akan lebih cepat tanggap dalam menangkap hal-hal baru yg masuk dalam pengalaman hidupnya.
Menumbuhkan minat belajar anak dengan huruf dan angka, memerlukan suasana yang menyenangkan. Menciptakan ruang belajar yang sederhana namun nyaman dengan tikar di lantai serta rak buku pendek yang bisa dijangkau dengan mudah oleh anak.
Seperti uraian yang didapat dari Blog Miss Jana sepertinya menarik untuk disimak.
Saya mempunyai dua keponakan usia 3 tahun dan 1 tahun. Sejak kecil mereka saya biasakan dengan berbagai buku. Buku-buku tersebut bermacam-macam, mulai dari buku cerita pendek bersampul tebal (hardcover), penuh warna, buku-buku kecil yang berisi gambar dan kata, sampai buku cerita yang lumayan tebal. Buku-buku tersebut tentu saja berisi kata-kata dengan tulisan yang cukup besar. Saya bacakan saja bukunya dengan intonasi yang sesuai dengan jalan ceritanya.
Ada satu buku yang berjudul “Siapa Yang Makan Daun Ini?”. Dengan warna-warni yang menarik buat anak, gambar yang besar, dan huruf-huruf yang cukup besar juga. Dibuat dari karton tebal sehingga mudah dipegang dan dibalik halamannya oleh anak, serta tidak mudah robek / rusak.
* Di halaman pertama muncul gambar sapi dengan tulisan “Bukan aku. Aku makan rumput.”
* Di halaman kedua muncul gambar lebah dengan tulisan “Bukan aku. Aku makan sari bunga.”
* Di halaman ketiga muncul gambar monyet dengan tulisan “Bukan aku. Aku makan pisang.”
* Di halaman keempat muncul gambar ulat dengan tulisan “Itu aku. Aku makan daun.”
Selain mengajarkan anak banyak kosa kata tentang binatang dan makanannya, juga ada komponen yang sama yaitu “Bukan Aku”. Jadi saya akhirnya memberikan buku itu judul baru yaitu “Bukan Aku”.
Dalam mengajarkan huruf kepada anak, ajarkan terlebih dahulu ”KATA”.
KATA langsung mempunyai arti dalam hal fisik yaitu yang bisa dilihat dan dirasakan oleh anak. Misalnya kata “sapi”, anak langsung bisa melihat gambar sapi di buku tersebut. Kata “lebah”, anak bisa melihat gambar lebah. Demikian juga dengan kata “monyet” dan “ulat”.
Coba Kita bayangkan jika Kita adalah seorang anak usia 1,9 tahun dan diberikan huruf “a” atau “b”. Apakah bagi anak seumur itu akan bisa memahami artinya? Tentu saja tidak. Tapi apabila Kita diberikan satu kata “sapi”, maka Kita akan tahu artinya karena bendanya ada dan bisa dilihat.
”Ajarkanlah kata-kata yang mempunyai makna langsung, dan bukan abstrak.”
Saya mempunyai satu paket belajar untuk anak yang terdiri dari poster, buku cerita berwarna, video cerita, CD Rom interaktif, CD lagu berupa audio, buku teks lagu, yang kesemuanya merupakan satu kesatuan. Satu buku cerita sama isinya dengan 1 video, dan 4 CD Rom interaktif. Sambil menonton videonya, saya pangku keponakan saya, dan di atas pangkuannya saya taruh buku cerita yang berhubungan dengan video tersebut. Jadi saya menumbuhkan rasa cintanya terhadap buku.
Di dalam buku cerita, poster, dan video, ada lagu tentang huruf dan angka. Pada saat lagu ABCD, saya ambil posternya yang berisi huruf besar dan kecil dan kata yang mewakili huruf tersebut. Misalnya “a” for “apple”, “b” for “bear”, dst. Di setiap huruf juga ada gambar yang mewakili kata tersebut. Di huruf “a” ada gambar “apel”, di huruf “b” ada gambar “beruang”, dst.
Belajar sambil bermain membuat anak senang. Dalam keadaan senang, otak akan cepat menyerap informasi. Dan terjadilah sambungan sel-sel otak yang akan menambah kecerdasan anak. Semakin banyak terjadi sambungan, semakin cerdaslah anak tersebut.
Pada saat CD audio lagu diputar, saya ambil buku teks lagu dan ikut bernyanyi bersamanya. Karena saya sering melakukan itu, sekarang keponakan saya akan langsung mengambil buku teks lagu begitu CD audionya diputar. Perlu diketahui bahwa dulu dia tidak suka mendengarkan CD audio. Yang diminta selalu menonton videonya. Saya tidak pernah memaksa dia untuk senang dengan CD audio. Saya hanya memutar CD-nya dan mengambil buku teks lagu, lalu bernyanyi dengan gembira. Karena melihat saya begitu menikmati saat-saat bernyanyi, akhirnya dia pun ikut juga. Dan sekarang dia senang dengan CD audionya.
“Kita tidak bisa menyuruh anak untuk senang dengan huruf dan angka. Kitalah yang harus membuat diri kita sendiri senang dulu dengan bernyanyi atau pun membacakan buku cerita untuknya. Jika kita sudah senang, maka anak pun akan bisa merasakan kesenangan kita dan mereka akan ikut serta dalam pelajaran yang menggembirakan ini.”
Jadi, kita tidak bisa meminta. Kitalah yang harus MEMBERI, MEMBERI, MEMBERI, dan MEMBERI. Serta dibarengi dengan rasa SABAR, SABAR, SABAR, DAN SABAR.
Sumber: Blog Miss Jana
Papa Arsya



No comments yet
Comments feed for this article